Lewis Hamilton Usulkan Grand Prix di Afrika Sebelum Pensiun

Lewis Hamilton, pembalap Formula 1 yang telah meraih tujuh gelar juara dunia, mengungkapkan keinginannya untuk berlaga di Grand Prix di tanah Afrika sebelum mengakhiri karir balapnya. Dalam pernyataan tersebut, ia juga menyerukan gerakan untuk “mengambil kembali Afrika”, dengan menekankan bahwa benua ini masih berada di bawah kendali kekuatan Eropa.

Ambisi Memperjuangkan Grand Prix di Afrika

Di hadapan media menjelang dimulainya musim Formula 1 baru di Melbourne, Hamilton mengungkapkan bahwa ia sangat ingin melihat balapan Formula 1 berlangsung di Afrika. Pembalap berusia 41 tahun ini, yang merupakan pembalap kulit hitam pertama di F1, menggarisbawahi pentingnya mengembalikan kontrol atas sumber daya yang dimiliki benua tersebut.

“Saya memiliki akar dari beberapa tempat di sana, seperti Togo dan Benin. Saya sangat bangga dengan bagian dunia itu. Ini adalah bagian terindah di dunia dan saya tidak suka bahwa orang lain memiliki begitu banyak darinya dan mengambil begitu banyak, namun tidak ada yang berbicara tentangnya. Saya berharap semua orang yang mengelola negara-negara tersebut bersatu untuk mengambil kembali Afrika,” ucapnya.

Kontrol Eropa dan Sumber Daya Afrika

Hamilton menekankan bahwa bekas penguasa kolonial masih memiliki pengaruh yang besar di kawasan tersebut. Ia percaya bahwa Afrika memiliki semua sumber daya untuk menjadi tempat yang paling hebat dan kuat di dunia, dan itulah alasan mengapa benua tersebut masih berada di bawah kontrol pihak luar.

“Saya ingin melihat Afrika diambil kembali dari tangan Prancis, Spanyol, Portugis, dan Inggris. Ini sangat penting untuk masa depan benua tersebut,” lanjutnya.

Perjuangan untuk Grand Prix Afrika

Hamilton juga menyampaikan kembali dukungannya yang konsisten untuk penyelenggaraan Grand Prix di Afrika. “Selama enam atau tujuh tahun terakhir, saya sudah berjuang di belakang layar untuk mengadakan grand prix di sana. Saya bertanya kepada para pemangku kepentingan, ‘Mengapa kita tidak ada di Afrika?”

“Saya tidak ingin meninggalkan olahraga ini tanpa mendapatkan kesempatan untuk balapan di sana. Saya akan terus mendesak mereka untuk merealisasikan ini. Mereka sudah menetapkan beberapa tanggal, dan saya merasa waktu semakin mendesak. Saya akan bertahan di sini sampai itu terwujud. Itu akan sangat luar biasa, mengingat saya setengah orang Afrika. Setiap benua sudah ada grand prix-nya, mengapa tidak Afrika? Saya tahu mereka benar-benar berusaha,” jelasnya.

Potensi Negara Tuan Rumah

Setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara di Afrika, Hamilton juga mengemukakan beberapa ide untuk negara-negara yang bisa menjadi tuan rumah Grand Prix. “Saya rasa mereka sudah pernah mengunjungi berbagai negara. Saya sangat menyukai Kenya, meskipun saya rasa kita tidak akan mengadakan grand prix di sana. Namun, Rwanda sangat menakjubkan. Afrika Selatan juga luar biasa. Saya rasa itu adalah beberapa tempat yang baik untuk kita pertimbangkan,” ungkapnya.

Dampak untuk Indonesia

Pernyataan Hamilton ini tentunya menarik perhatian banyak pihak, termasuk penggemar otomotif di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya popularitas Formula 1 di tanah air, kehadiran Grand Prix di Afrika bisa menjadi momen yang menyentuh banyak penggemar balap di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain itu, hal ini juga bisa membuka peluang bagi peningkatan kerjasama dan hubungan internasional dalam bidang olahraga.

Kesimpulan

Keinginan Lewis Hamilton untuk berlaga di Grand Prix Afrika bukan hanya sekadar ambisi pribadi, tetapi juga panggilan untuk mengembalikan kontrol dan kekayaan benua tersebut. Dengan dukungan dan upaya bersama, harapan ini bisa menjadi kenyataan, dan mungkin akan membawa dampak positif bagi penggemar olahraga di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*