MArtap

Serangan Drone di Goma, Tiga Tewas, M23 Tuduh Pemerintah DRC

Serangan drone di Goma, DRC, menewaskan tiga orang

Serangan Drone di Goma, Tiga Tewas, M23 Tuduh Pemerintah DRC

Setidaknya tiga orang dilaporkan tewas dalam serangan drone yang terjadi di Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara, pada Rabu dini hari. Serangan ini dilaporkan oleh juru bicara kelompok pemberontak M23 yang saat ini menguasai kota tersebut sejak Januari 2025.

Kronologi Serangan Drone di Goma

Serangan berlangsung sekitar pukul 4 pagi di kawasan permukiman yang padat penduduk. Lawrence Kanyuka, juru bicara Aliansi Sungai Kongo yang mencakup M23, mengutuk tindakan tersebut dan menuduh pemerintah Kinshasa berada di balik serangan ini.

“Serangan drone ini dilancarkan oleh rezim teroris Kinshasa, jauh di luar garis depan,” ungkap Kanyuka melalui akun media sosialnya. “Tindakan agresi ini merupakan provokasi yang tidak dapat diterima, yang menargetkan area perkotaan yang padat penduduk dan secara sengaja membahayakan ribuan warga sipil yang tidak bersalah.”

Respons dan Dampak Serangan

Sampai saat ini, pemerintah DRC belum memberikan komentar resmi terkait serangan tersebut, dan belum ada pihak yang mengklaim tanggung jawab atas insiden ini. Di media sosial, beredar gambar yang menunjukkan petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api di lantai atas sebuah rumah dua lantai yang atapnya rusak.

Goma sendiri merupakan kota terbesar di bagian timur DRC dan sebelumnya menjadi lokasi pertempuran berdarah pada Januari lalu, saat pemberontak M23 melancarkan serangan untuk merebut kendali wilayah tersebut. Dalam pertempuran itu, sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas.

Konflik Berkelanjutan dan Dinamika Baru

Pemberontak M23 yang didukung Rwanda adalah salah satu dari lebih dari 100 kelompok bersenjata yang melawan pasukan Konggo di wilayah timur yang kaya akan mineral. M23 mengklaim tujuan mereka adalah untuk melindungi kepentingan orang Tutsi Konggo dan minoritas lainnya, termasuk melindungi mereka dari kelompok pemberontak Hutu yang melarikan diri ke DRC setelah terlibat dalam genosida Rwanda tahun 1994.

M23 saat ini menguasai wilayah luas di bagian timur DRC dan telah membentuk pemerintahan paralel di daerah yang mereka kendalikan. Pertempuran masih terus berlangsung di kawasan ini meskipun ada kesepakatan damai yang dimediasi oleh AS yang ditandatangani pada bulan Desember antara pemerintah Konggo dan Rwanda.

Pekan lalu, AS menjatuhkan sanksi terhadap tentara Rwanda dan empat pejabat seniornya, dengan tuduhan “mendukung, melatih, dan bertempur” bersama M23.

Serangan drone pada Rabu menunjukkan adanya perubahan dinamika dalam konflik ini, ditandai dengan meningkatnya penggunaan peperangan drone oleh kedua belah pihak. Dua pekan lalu, serangan drone militer di Rubaya, sebuah kota penambangan coltan yang penting dan dikuasai M23, menewaskan juru bicara militer kelompok tersebut, Willy Ngoma, beserta beberapa pemimpin lainnya.

Minggu lalu, M23 juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang menargetkan bandara Kisangani di Provinsi Tshopo, bagian timur negara tersebut.

Kesimpulan

Serangan drone di Goma ini mencerminkan kompleksitas dan kekerasan yang terus berlanjut di DRC. Dengan adanya tuduhan dari M23 terhadap pemerintah dan meningkatnya penggunaan teknologi drone dalam konflik ini, situasi di kawasan tersebut semakin memprihatinkan. Bagi masyarakat internasional, perhatian harus lebih diarahkan pada krisis kemanusiaan yang berlangsung dan upaya untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan di wilayah yang sering kali dilanda ketidakstabilan ini.

Exit mobile version