Seorang wanita asal Inggris bernama Isabel Rose, berusia 26 tahun, dijatuhi hukuman enam tahun penjara di Hong Kong setelah terbukti melakukan pemerasan dan menghalangi proses hukum terkait tuduhan pemerkosaan yang palsu. Kasus ini menarik perhatian publik, terutama mengingat isu keadilan dan perlindungan wanita yang sering menjadi sorotan di berbagai negara.
Isabel Rose, yang berasal dari Hackney, London timur, mengklaim bahwa seorang banker asal Inggris telah memerkosanya setelah ia melakukan perjalanan ke Hong Kong untuk menemuinya pada bulan Januari 2024. Tuduhan tersebut membuat pria tersebut ditangkap setelah laporan Rose, namun ia kemudian dibebaskan tanpa dakwaan. Rose sendiri akhirnya ditangkap dan dijerat dengan tuduhan pemerasan.
Menurut laporan media lokal, pada hari Rabu, Rose menghadapi sidang di Pengadilan Distrik Hong Kong untuk penjatuhan hukuman setelah dinyatakan bersalah pada bulan Maret. Selama proses hukum, ia membantah semua tuduhan yang dikenakan kepadanya.
Hakim Adriana Tse menjatuhkan hukuman lima tahun penjara untuk pemerasan dan tiga tahun untuk menghalangi proses hukum, dengan pelaksanaan satu tahun penjara tambahan secara berturut-turut. Jaksa penuntut mengklaim bahwa Rose menciptakan tuduhan tersebut untuk memeras uang sebesar £100,000 (sekitar $134,000) dari pria yang identitasnya dirahasiakan. Meskipun demikian, Rose tetap bersikeras bahwa dia adalah korban pemerkosaan.
Dokumen pengadilan menyebutkan bahwa Rose tiba di Hong Kong pada 31 Januari 2024 setelah bertemu dengan pria tersebut di Thailand sebulan sebelumnya. Kasus ini semakin rumit oleh bukti berupa pesan WhatsApp yang ditukar antara keduanya pada beberapa jam dan hari setelah insiden yang terjadi pada 1 Februari di apartemen pria tersebut.
Salah satu pesan yang dikirim Rose keesokan harinya berbunyi, “Apakah kamu merasa kesal karena aku tidak ingin berhubungan seksual?” dan mendapat balasan dari pria itu yang menyatakan bahwa ia terkesan dengan pengendalian diri Rose. Namun, Rose kemudian menuduh pria itu telah melanggarnya, menyatakan, “Kamu telah melanggar aku malam itu, aku tidak ingin berhubungan seksual.”
Pria itu mengakui bahwa ia sedikit mabuk dan salah memahami sinyal yang diberikan Rose, tetapi merasa sakit hati dengan tuduhan tersebut. Dalam pesan-pesan selanjutnya, mereka berbincang mengenai uang, di mana pria itu setuju untuk mengembalikan biaya perjalanan dan akomodasi Rose.
Pria tersebut mengirimkan £5,000 dan berusaha untuk mengirimkan tambahan £5,000 lagi. Namun, Rose menanggapinya dengan pesan, “Kamu baru memberikan 10% dari yang aku berhak terima. 100% jiwaku hilang.” Dalam komunikasi lebih lanjut, pria itu mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk membayar jumlah £100,000 yang diminta Rose.
Rose akhirnya melaporkan pemerkosaan tersebut kepada polisi pada 3 Februari. Pria tersebut ditangkap dan diinterogasi, namun dibebaskan tanpa dakwaan. Keesokan harinya, Rose ditangkap dan kemudian didakwa dengan pemerasan dan menghalangi proses keadilan publik. Kasus ini memperlihatkan betapa seriusnya konsekuensi dari tuduhan palsu dan pentingnya sistem hukum dalam menangani kasus-kasus sensitif seperti ini.
