Kekhawatiran Uji Coba Vaksin ‘Tidak Etis’ di Afrika Menjadi Model di AS

Para ahli kesehatan di Amerika Serikat tengah mengungkap kekhawatiran terkait sebuah uji coba vaksin yang dianggap “tidak etis” di Guinea-Bissau. Mereka percaya bahwa penelitian ini bisa menjadi model untuk studi-studi yang akan dilakukan di bawah Robert F. Kennedy Jr, Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS yang juga dikenal sebagai kritikus vaksin. Kasus ini menarik perhatian mengingat pentingnya etika dalam penelitian kesehatan, terutama di negara-negara berkembang.

Detail Uji Coba Vaksin di Guinea-Bissau

Uji coba tersebut melibatkan vaksin hepatitis B yang direncanakan untuk diberikan kepada sebagian bayi baru lahir. Meskipun prevalensi penyakit ini mencapai 18% di kalangan orang dewasa di Guinea-Bissau, hanya separuh bayi yang akan divaksin. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait dampak kesehatan yang mungkin terjadi, mengingat hepatitis B dapat berakibat fatal.

Stand Up for Science, sebuah organisasi nonprofit yang fokus pada sains dan kesehatan di AS, mengirimkan seorang penyelidik untuk mengumpulkan data publik dan mewawancarai para ahli di Guinea-Bissau. Hasilnya kemudian dibagikan kepada anggota Kongres pada 19 Februari dalam sebuah laporan yang belum dirilis. Laporan ini menyoroti keterlibatan mendalam proyek kesehatan Bandim di Guinea-Bissau serta tantangan yang dihadapi dalam melakukan penelitian yang etis di wilayah tersebut.

Dampak Penelitian Terhadap Kebijakan Kesehatan AS

Colette Delawalla, pendiri Stand Up for Science, menyatakan kekhawatirannya bahwa uji coba di Guinea-Bissau ini bisa menjadi prototipe untuk studi-studi lain yang berpotensi serupa di AS. Dia mengingatkan bahwa pemerintah AS bisa saja mendanai penelitian global yang memiliki masalah etika yang sama seperti eksperimen Tuskegee, yang sangat terkenal dalam sejarah penelitian medis yang tidak etis. Delawalla menegaskan, “Ini bisa menjadi sangat berbahaya.”

Pihak peneliti asal Denmark yang terlibat dalam uji coba hepatitis B ini sebelumnya telah menjalankan proyek Bandim selama 48 tahun. Namun, kini mereka menghadapi sejumlah pertanyaan baru mengenai integritas penelitian mereka, termasuk sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Vaccine yang mencatat beberapa kasus di mana peneliti tampak merilis hasil yang tidak lengkap atau bahkan tidak sama sekali.

Keterhubungan Peneliti dengan Pemerintah AS

Para peneliti ini memiliki hubungan yang erat dengan pemerintahan AS saat ini; Kennedy sendiri telah mengutip Peter Aaby, salah satu peneliti, sebagai pengaruh dalam pandangannya tentang vaksin. Christine Stabell Benn, peneliti lainnya, juga terlibat dalam kelompok kerja hepatitis B dari komite penasihat praktik imunisasi yang berperan dalam menentukan bukti di balik keputusan untuk menghentikan rekomendasi vaksinasi universal.

Terdapat isu serius terkait lembaga etika di Guinea-Bissau. Menurut Magda Robalo, mantan menteri kesehatan setempat, komite etika terkesan sebagai “klub teman” dan mengenakan biaya untuk setiap ulasan penelitian, yang berpotensi mempengaruhi keputusan mereka. Robalo menekankan bahwa mendapatkan persetujuan yang terinformasi di Guinea-Bissau sangat sulit, mengingat tingkat literasi yang rendah dan kendala bahasa.

Kesimpulan

Situasi di Guinea-Bissau menunjukkan tantangan yang besar dalam pelaksanaan penelitian kesehatan yang etis. Tanpa adanya lembaga penelitian kesehatan yang kredibel, banyak peneliti lokal terpaksa berkolaborasi dengan Bandim yang dapat menciptakan konflik kepentingan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa praktik-praktik penelitian yang tidak etis dapat berdampak buruk tidak hanya pada Guinea-Bissau, tetapi juga pada kebijakan kesehatan global, termasuk di AS. Uji coba vaksin yang tidak etis ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan vaksin di seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*