Tragedi penembakan terjadi di sebuah sekolah menengah di Provinsi Nonthaburi, Thailand, yang terletak di sebelah utara Bangkok, menyebabkan beberapa orang tewas dan lainnya terluka. Menurut keterangan pejabat setempat, para siswa, guru, dan staf lainnya dievakuasi saat pihak berwenang mengerahkan petugas polisi, pekerja penyelamat, dan dokter darurat ke lokasi kejadian.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa pelaku yang diduga melakukan penembakan adalah seorang siswa berusia 14 tahun yang diduga terlebih dahulu membunuh kakek dan neneknya dengan pistol milik kakeknya. Pelaku tinggal bersama kakek dan neneknya, dan polisi menemukan mereka meninggal di belakang pintu yang terkunci saat mulai menyelidiki insiden tersebut.
Awalnya, pihak berwenang melaporkan bahwa total korban tewas mencapai enam orang, termasuk siswa. Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, jumlah tersebut direvisi menjadi dua guru dan tiga staf lainnya yang merupakan pegawai sekolah.
Pelaku kemudian dilaporkan mengakhiri hidupnya di lokasi kejadian. Rumah Sakit Bangyai yang berjarak sekitar 5 kilometer dari sekolah melaporkan bahwa 23 orang mengalami luka-luka, dengan 10 di antaranya dalam kondisi kritis akibat luka tembak. Sebelumnya, laporan mengenai jumlah korban memberikan angka yang saling bertentangan.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan belasungkawa dan menyatakan bahwa ia telah menginstruksikan pejabat terkait untuk membantu para korban. Ia menyebut insiden ini sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan seharusnya tidak terjadi.
Lebih lanjut, Anutin mengungkapkan bahwa pelaku remaja dalam insiden penembakan tersebut berada dalam kondisi ‘stres’ dan ada bukti awal bahwa ia merencanakan serangan tersebut. Perdana menteri juga menyatakan akan mendiskusikan kontrol senjata dengan kepala kepolisian negara.
Peristiwa ini terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi yang terletak di distrik Bang Kruai, Nonthaburi. Seorang siswa berusia 18 tahun mengatakan bahwa ia awalnya tidak menyadari suara tembakan dan mengira itu adalah suara petasan. “Ada banyak tembakan: bang bang bang. Kemudian sepi. Lalu mulai lagi,” ujarnya.
Siswa lain, Pawarisa Maylissa, seorang siswa kelas 12 yang bercita-cita menjadi dokter, mengungkapkan ketakutannya. “Saya takut akan mati dan tidak bisa mengejar impian saya,” katanya. “Saya mendengar banyak suara tembakan sangat keras karena sepertinya pelaku berada di lantai tepat di atas kami. Saya bahkan bisa mendengar peluru mengenai lantai.”
Menurut data dari pihak berwenang setempat, Sekolah Debsirin Nonthaburi memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru pada tahun ajaran 2025.
Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata tertinggi di kawasan ini, dengan sekitar 10 juta senjata api beredar, atau satu untuk setiap tujuh orang. Insiden penembakan sebelumnya juga pernah terjadi, di mana seorang remaja berusia 17 tahun mencuri senjata dari polisi dan melakukan penembakan di sebuah sekolah menengah di Thailand selatan, yang mengakibatkan satu orang tewas dan dua lainnya terluka. Pada Oktober 2023, seorang remaja berusia 14 tahun melakukan penembakan di pusat perbelanjaan Siam Paragon di Bangkok, menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya.
